BANDA ACEH | SAH – Bank Indonesia Perwakilan Aceh merilis pertumbuhan ekonomi Aceh pada triwulan IV 2023 hanya 4,15 persen (yoy), lebih rendah dari rata-rata Sumetara yang tumbuh sebesar 4,59 persen (yoy) dan pertumbuhan ekonomi nasional 5,04 persen (yoy).
Meski demikian, Bank Indonesia menilai kontribusi ekonomi Aceh terhadap ekonomi Sumatera masih relatif stabil yakni 5,02 persen. Aceh masih menjadi provinsi dengan perekonomian terkecil di Sumatera setelah Bengkulu (2,14 persen) dan Kepulauan Bangka Belitung (2,27 persen). Sementara itu, Sumatera Utara (23,25 persen), Riau (22,71 persen), dan Sumatera Selatan (13,92 persen) masih menjadi provinsi dengan sumbangan ekonomi paling dominan di Sumatera dengan pangsa dari ketiga provinsi tersebut mencapai 57,95 persen dari total ekonomi Sumatera.
Secara keseluruhan provinsi di Sumatera mengalami pertumbuhan yang positif dengan pertumbuhan tertinggi berasal dari Provinsi Lampung yaitu sebesar 5,40 persen (yoy), diikuti oleh Provinsi Sumatera Utara sebesar 5,02 persen (yoy) dan Provinsi Sumatera Selatan sebesar 4,94 persen (yoy), Bengkulu sebesar 4,76 persen (yoy), Kepulauan Riau sebesar 4,45 persen (yoy), Sumatera Barat sebesar 4,30 persen (yoy), Aceh sebesar 4,15 persen (yoy), Jambi sebesar 4,03 persen (yoy), Riau sebesar 4,02 persen (yoy), dan Bangka Belitung 4,00 persen (yoy).
Menurut laporan BI Aceh, pertumbuhan ekonomi Aceh sebesar 4,15 persen itu lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 3,78 persen. Ditinjau dari sisi permintaan, pertumbuhan didorong oleh perbaikan kinerja net ekspor antar daerah serta peningkatan kinerja konsumsi rumah tangga dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB). Secara keseluruhan ekonomi Aceh tahun 2023 tumbuh sebesar 4,23 persen (yoy), stabil dibandingkan tahun 2022 sebesar 4,21 persen (yoy).
Sementara pada sisi lapangan usaha,pertumbuhan ditopang oleh peningkatan pertanian, perdagangan, serta transportasi dan pergudangan. Selain itu, peningkatan pertumbuhan pada triwulan tersebut turut didukung oleh penyelenggaraan kegiatan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) pada 4-12 November 2023 yang memberikan dampak terhadap peningkatan mobilitas dan konsumsi masyarakat.
Dari sisi permintaan, konsumsi rumah tangga memberikan andil pertumbuhan paling tinggi yaitu sebesar 2,21 persen. Sumber pertumbuhan tertinggi berikutnya berasal dari komponen PMTB sebesar 1,87 persen dan net ekspor antar daerah sebesar 0,75 persen. Sementara itu, ekspor luar negeri dan konsumsi pemerintah memberikan andil pertumbuhan negatif masing-masing sebesar -0,57 persen dan -0,02 persen. Di sisi lain, impor luar negeri sebagai komponen pengurang pertumbuhan memberikan andil sebesar -0,26 persen.[]



