BANDA ACEH | SAH – Pertumbuhan ekonomi Aceh pada triwulan II 2024 turun 0,28 persen, hanya umbuh 4,54 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 4,82 persen (yoy).
Hal itu terungkap dalam Laporan Perekonomian Provinsi Aceh Agustus 2024 yang dirilis Bank Indonesia baru-baru ini. Meski tumbuh lebih rendah, namun tumbuh lebih kuat dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi wilayah Sumatera.
Pertumbuhan ekonomi bersumber dari masih kuatnya Konsumsi Rumah Tangga dan Konsumsi Pemerintah serta meningkatnya kinerja Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB).
Sementara itu, realisasi agregat belanja dan pendapatan pemerintah di Provinsi Aceh sampai dengan triwulan II 2024 membaik dibandingkan realisasi pada periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini didorong oleh membaiknya realisasi Belanja dan Pendapatan Negara maupun realisasi Belanja dan Pendapatan Daerah pada periode triwulan pelaporan.
Komponen realisasi Belanja yang memiliki pertumbuhan tertinggi terdapat di Belanja Transfer sebesar 43,61%. Hal tersebut sejalan dengan peningkatan realisasi Pendapatan Transfer yang meningkat paling tinggi disbanding komponen lainnya sebesar 49,42%.
Di sisi lain, pada triwulan II 2024, laju Inflasi Provinsi Aceh tercatat sebesar 3,09% (yoy) atau lebih rendah dibanding triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 3,25% (yoy). Kondisi ini didorong oleh inflasi Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau yang lebih stabil pada periode laporan.
Stabilitas Sistem Keuangan Provinsi Aceh pada triwulan II 2024 tumbuh stabil. Hal ini tercermin dari peningkatan pembiayaan berdasarkan lokasi bank yang diikuti oleh penurunan Non Performing Financing. Peningkatan juga terjadi pada Dana Pihak Ketiga (DPK) berdasarkan lokasi bank yang tumbuh sebesar 11,56% (yoy). Sementara, rasio pembiayaan untuk UMKM mencapai sebesar 27,93%.
Selama triwulan II 2024, perkembangan sistem pembayaran secara konsisten berjalan lancar dalam mendorong perekonomian Provinsi Aceh. Sistem pembayaran tunai berjalan dengan baik, dimana terjadi net inflow pada triwulan laporan. Sistem pembayaran non tunai nilai besar mengalami pertumbuhan. Di sisi lain, penggunaan kartu debit, uang elektronik, dan QRIS terus menunjukkan tren pertumbuhan positif pada triwulan laporan.
Sementara itu, tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) periode berjalan mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya. Hal ini sejalan dengan tingkat kemiskinan yang menunjukkan penurunan persentase. Namun demikian, dibandingkan dengan seluruh provinsi di Sumatera, TPT Aceh masih berada pada urutan ketiga, sedangkan kemiskinan masih berada pada peringkat pertama.
Kinerja perekonomian Provinsi Aceh pada tahun 2024 diprakirakan tumbuh pada kisaran 4,24%-5,04% (yoy) atau berpotensi lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya (4,23%, yoy). Membaiknya pertumbuhan ekonomi tersebut dipengaruhi oleh peningkatan kinerja konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah di tengah penyelenggaraan Pemilu 2024 dan Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI Aceh-Sumatera Utara 2024.
Sementara itu, laju inflasi tahun 2024 diprakirakan berada kisaran sasaran inflasi nasional sebesar 2,5±1%. Prospek terkendalinya inflasi Provinsi Aceh pada tahun 2024 didukung oleh berbagai kebijakan pengendalian inflasi yang dilakukan oleh TPIP dan TPID se-Aceh.[]



