MaSA bersama Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG), Jumat, 12 Juni 2026 menggelar workshop meurukon, tradisi Aceh yang hampir punah.

Redaksi SAH

MaSA Revitalisasi Meureukon Sebagai Tradisi Islami Aceh

Featured, Majelis Seniman Aceh, Muerukon, Tradidi Aceh, Universitas Bina Bangsa Getsempena

BANDA ACEH | SAH — Majelis Seniman Aceh berupaya merevitalisasi seni tradisi Meurukon yang hampir punah. Seni khas Aceh ini juga sudah diajukan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WTB) Indonesia oleh Pemerintah Kabupaten Bireuen.

Untuk mengemakan kembali tradisi meurukon, MaSA bersama Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG), Jumat, 12 Juni 2026 menggelar workshop meurukon, tradisi Aceh yang hampir punah. Panitia menghadirkan Ismail Husein syeh meurokon dari Samalanga, seniman tutur Aceh Muhammad Diyah Husen (Medya Hus) dari Sueng Samlakoe, serta akademisi dari Univesitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Dr. Teuku Zulkhairi.

Ketua Umum Majelis Seniman Aceh (MaSA) Chairiyan Ramli menjelaskan, revitalisasi meurukon merupakan sesuatu yang harus segera dilakukan, agar tradisi Aceh yang sangat islami ini tidak hilang ditelan zaman. Ia berharap akademisi dan pihak kampus mau meneliti dan melestarikan seni tradisi meurukon ini.

“Ini penting supaya anak-anak Aceh punya jati diri sendiri yang Islami. Meurukon ini merupakan tradisi Islami Aceh yang hampir punah, agar generasi Aceh masa depan bisa menikmatinya, membangkitkan semangat generasi muda Aceh dalam mendalami seni tradisi warisan leluhurnya,” kata Chairiyan.

Chairiyan menegaskan, MaSA akan terus berupaya untuk mengembangkan dan melestarikan seni dan tradisi Aceh agar tidak punah.  Pelestarian Meurukon juga akan dilanjutkan dengan berbagai kegiatan lainnya, tidak hanya sebatas seminar dan workspoh semata.

“Ini akan kita dilanjutkan untuk tahun-tahun yang akan datang, bisa saja nanti ada tunang meureukon antar kampus, antar dayah, bahkan antara sekolah. Tanggal 23 Juni 2026 nanti kita adakan pertunjukan meureukon di Taman Budaya Banda Aceh,” tegasnya.

Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah I Provinsi Aceh, Piet Rusdi sangat mengapresiasi kegiatan yang dilakukan oleh MaSA dan UBBG tersebut. Piet menegaskan, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Program Pendayagunaan Ruang Publik Dana Indonesiana membuka kesempatan bagi pribadi dan lembaga dalam pembinaan ruang kebudayaan.

“Ini ruang dari pemerintah yang bisa diakses kapan saja. Kami terus berupaya mendorong pemajuan kebudayaan untuk penguatan identitas budaya untuk diwariskan kepada generasi selanjutnya. Meurukon merupakanbagian dari ketahanan budaya. Meurukon ini juga merupakan media edukasi bagi masyarakat. Kita perlu terus melakukan pengembangan kreativitas budaya melalui festival dan pertunjukan,” ujat Piet.

Sementara itu Rektor UBBG Prof Lili Kasmini menyampaikan, perlu komitmen bersama dalam menjaga, melestarikan, dan mengembangkan warisan budaya Aceh yang bernilai tinggi.

Menurutnya, meurukon merupakan salah satu seni tradisi lisan masyarakat Aceh yang tumbuh dan berkembang sebagai media Pendidikan, dakwah, dan pembentukan karakter masyarakat.

“Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini. UBBG memiliki komitmen terhadap pengembangan Pendidikan, penelitian dan pengembangan masyarakat, serta pelestarian budaya lokal,” jelasnya.[]

Leave a Comment