BANDA ACEH | SAH – Anggota Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia, H. Irmawan, S.Sos, MM, Senin, 22 Juni 2026 meninjau kerusakan laboratorium Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (USK) yang terbakar akibat bentrokan mahasiswa beberapa waktu lalu.
Irmawan yang juga Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Alumni Fakultas Ekonomi Uiversitas Syiah Kuala (Ikafensy) datang ke Kampus USK bersama Kepala Satuan Kerja (Kasatker) Prasarana Strategis Aceh Direktorat Jenderal Prasarana Strategis Kementerian Pekerjaan Umum (PU) Syarifah Rahimah, Ketua Harian Ikafensy Zubir Husein, dan Sekjen Ikafensy Ubaidilah M Nur.
Kedatangan Irmawan ke kampus jantong hate rakyat Aceh tersebut diterima langsung oleh Rektor Prof Mirza Tabrani SE, MBA, DBA dan Ketua Senat Akademik Universitas (SAU) USK Prof. Dr. Ir. Abubakar MS, serta beberapa pejabat dekanat Fakultas Pertanian.
Sebelum ke lokasi kebakaran, dalam pertemuan di ruang kerja Rektor USK tersebut juga sempat dibahas tentang keberadaan dan keberlanjutan Program Studi di Luar Kampus Utama (PSDKU) USK di Gayo Lues.
Dari Biro Rektor USK, Irmawan bersama rombongan kemudian menuju ke Fakultas Pertanian untuk melihat kondisi Laboratorium Geographic Information System (GIS) yang terbakar pada Kamis, 21 Mei 2026 lalu akibat bentrok mahasiswa. Kerugian akibat kebalaran fasilitas riset tersebut diperkirakan lebih Rp 20 miliar.
“Kami datang ke sini hari ini untuk melihat langsung kondisi di lapangan, nanti kita upayakan ke kementerian agar dibantu apakah direhab atau dibangun baru, makanya kita ajak Kepala Satker ke sini untuk nanti diajukan ke Kementerian Pekerjaan Umum,” jelas Irmawan.
Rektor USK Prof Mirza Tabrani menyambut baik hal tersebut. Pihaknya akan berkoordinasi dengan Satker dan menyiapkan berbagai hal yang diperlukan. Hal yang sama disampaikan Syarifah Rahimah, ia menegaskan Satker akan melakukan survey lanjutan tingkat kerusakan setelah mendapatkan intruksi lanjutan.
Sementara itu terkait biaya yang dibutuhkan, Prof Abubakar guru besar Fakultas Pertanian USK yang juga mantan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Aceh menjelaskan, untuk membangun baru laboratorium Fakultas pertanian yang terintegrasi pihaknya sudah pernah membuat perencanaan dengan biaya yang diperlukan sekitar Rp 45 miliar.
Menanggapi hal itu Irmawan mengatakan untuk menghitung ulang, karena biaya yang disampaikan tersebut merupakan hitungan beberapa tahun yang lalu. “Kalau bisa nanti disiapkan dua-duanya, jika bangun baru berapa yang dibutuhkan, kalau rehab berapa diperlukan. Satker nanti usulkan ke Kementerian kita upayakan sama-sama ke pemerintah,” tegas Irmawan.[]



