JAKARTA | SAH – Layanan jasa financial technology (fintech) syariah global tumbuh hingga 138 miliar dolar pada tahun 2022/2023 dan diprediksikan akan terus tumbuh menjadi 306 miliar dolar AS pada tahun 2027.
Hal itu disampaikan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengutip dala Global Islamic Fintech Report 2023/2024 pada acara Joint High Level Seminar and Investor Forum, kolaborasi Bank Indonesia dengan Islamic International Liquidity Management (IILM) dan Islamic Financial Services Board (IFSB), Kamis, 31 Oktober 2024.
Perry mengungkapkan, tingkat pertumbuhan tahunan gabungan Compound Annual Growth Rate (CAGR) sebesar 17,3%. Pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan dengan sektor fintech global secara keseluruhan, yang diperkirakan akan tumbuh pada CAGR sebesar 12,3% selama periode yang sama.
“Tren investasi syariah ke depan diperkirakan akan mengarah pada pengembangan platform digital yang menawarkan layanan mulai dari perbankan digital hingga crowdfunding, membuat keuangan syariah lebih ramah pengguna, kompetitif, dan mudah diakses,” jelasnya.
Perry menambahkan, inovasi perkembangan instrumen keuangan syariah global turut mengadopsi kebutuhan akan pembiayaan investasi berkelanjutan. Menurut Laporan Pengembangan Keuangan Islam 2023 terkini, nilai Sukuk Hijau dan Environmental, Social, Governance (ESG) yang beredar mencapai 24,4 miliar dolar AS pada tahun 2022.
Malaysia dan Arab Saudi adalah pemimpin Sukuk ESG, diikuti oleh Indonesia dan UEA. Selain itu, integrasi teknologi juga mendorong tumbuhnya financial technology (fintech) yang berperan dalam meningkatkan aksesibilitas pada pasar keuangan syariah.
Baca Juga: DPK Bank Syariah Tumbuh Double Digit
Sehari sebelumnya Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, Airlangga Hartarto pada acara Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2024 di Jakarta, Rabu, 30 Oktober 2024 menyampaikan, ekonomi syariah dan industri halal berperan strategis dalam memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia di tengah tantangan global.
Dengan jumlah penduduk muslim mencapai 87%, Indonesia sangat potensial untuk mengembangkan ekonomi syariah. Dalam State of The Global Islamic Economy (SGIEI) Report, pada tahun 2023 Indonesia menempati posisi ketiga. Selain itu, kontribusi ekonomi syariah dalam PDB yang mencapai 48,71% dan berperan dalam mendukung pemberdayaan UMKM menjadi peluang bagi pengembangan ekonomi syariah.
Airlangga mengapresiasi program utama yang diluncurkan dalam ISEF 2024 khususnya Halal Traceability yang dapat mendorong digitalisasi produk halal dan percepatan sertifikasi halal bagi produk-produk UMKM Indonesia.
“Sinergi ekosistem ekonomi syariah yang lebih inklusif sangat diperkukan untuk pengembangan ekonomi syariah yang lebih luas dan berkontribusi dalam pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan,” ujarnya.[]



