LHOKSUKON | SAH — Perkumpulan Majelis Seniman Aceh (MaSA) menyerahkan bantuan satu ekor lembu untuk sie meugang yang diterima Ketua Perwakilan Grup Kesenian Rapai Uroh Raya Pase, Faizan Abdullah, di Gampong Arongan AB, Kecamatan Lhoksukon,, Aceh Utara, di Gampong Arongan, Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara, Selasa, 17 Februari 2026.
Bantuan tersebut merupakan kumpulan dari sedekah panitia dan hadirin yang terkumpul pada acara Ïe Mata Nanggroe dan Spririt Laksamana Keumalahayati 28 Desember 2025, di Taman Budaya Aceh, yang difasilitasi Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah I Aceh.
Ketua Majelis Seniman Aceh, Chairiyan Ramli mengatakan, setelah bantuan terkumpul pada malam acara, pihaknya sepakat untuk memberikan bantuan yang terhubung dengan kebudayaan dan bermakna bagi penerima di kalangan seniman yang terkena bencana banjir Sumatra.
“Kami memilih memberikan bantuan sie meugang (daging meugang) dengan membeli satu ekor lembu dan membagikan dagingnya kepada puluhan seniman rapai pase yang terdampak banjir secara langsung,” kata Chairiyan Ramli.
Ketua panitia acara Ie Mata Naggroe sekaligus pimpinan rombongan penyerahan bantuan tersebut, Samsul Bahri, akrab disapa Sarjev, mengatakan, sie meugang merupakan sebuah peristiwa syang suci (sakral) bagi masyarakat Aceh.
“Ini simbolis. Daging lembu dimakan saat mak meugang, kulit lembu bisa untuk kulit rapai, lengkap mewaliki budaya selaku kita orang-orang budaya,” kata Sarjev.
Sarjev mengatakan, penerima manfaat bantuan tersebut terdiri dari puluhan orang korban terdampak banjir raya Sumatra pada November 2025. Mereka perawat budaya yang terkumpul di dalam 33 grup rapai Pase di beberapa kecamatan di Aceh Utara.
Jumlah ini tidak banyak, hanya satu ekor lembu dan satu ekor kambing, tetapi persaudaraan dan kepedulian lebih penting daripadanya. Kelebihan uang daripada membelikan satu ekor lembu pada acara Ie Mata Nanggroe, disatukan dengan bantuan dari seniman Suara dari Bali dan Senandung Anak Pulau melalui Yoppi Andri, dibelikan satu ekor kambing.
Kata Sarjev, kambing tersebut telah diserahkan sebelumnya kepada grup rapai di Paloh Raya Krueng Mane, Aceh Utara, yang dijadikan khanduri arwah pada Ahad 1 Februari 2026, untuk tiga anggota mereka yang meninggal dunia pada banjir raya tersebut.
“Rapai Pase merupakan sebuah karya benda dan tak benda seni budaya yang ikonik di kawasan utara Aceh. Sebagian rapai mereka ada yang ikut diseret arus banjir, terbenam di lumpur. Dari 33 grup di beberapa kecamatan tersebut ada rbuan orang anggota. Namun, kami hanya dapat membantu sebagian dari saudara kita ini,” kata Sarjev yang dalam rombongan tersebut dihadiri Tuwanku Alwinsyah dan Thayeb Loh Angen.[]



