BANDA ACEH | SAH – Kejayaan Aceh pada masa lalu tidak hanya sekadar dikenang, narasinya perlu terus diwariskan agar generasi Aceh mengenal jati dirinya yang memiliki warisan Islam, sejarah, kebudayaan, ilmu pengetahuan, sumber daya, dan posisi strategis yang menjadi modal besar untuk masa depan.
Hal itu disampaikan politisi dan musisi Aceh Rafly Kande usai Deklarasi Halaman Jeda, Minggu malam, 13 September 2026 di Banda Aceh. Deklarasi dihadiri oleh Prof. Drs. Yusny Saby, Ph.D, Prof. Dr. Rajuddin, Sp.OG.K.Fer, Prof. Dr. Apridar, M. Si, Prof. Dr. Jasman J. Ma’ruf, SE, MBA, Prof. Dr. Eng. Ir. Teuku Abdullah Sanny, M. Sc, Drs. Teuku Abdullah, SH, MA (TA Sakti), dan Tgk. H. Masrul Aidi, Lc.
Rafly mnejelaskan, deklarasi Halaman Jeda merupakan kesadaran bersama untuk meneguhkan Islam dan syariah sebagai landasan moral kehidupan Aceh; Membangun manusia yang berilmu, berkarakter, dan produktif; Mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menciptakan nilai tambah; Memperkuat kewirausahaan dan dunia usaha agar mampu bersaing secara global.
Selain itu juga untuk engoptimalkan posisi Aceh di Samudra Hindia dan Selat Malaka sebagai pintu perdagangan dunia, merawat kebudayaan sebagai identitas sekaligus kekuatan peradaban, serta menyatukan ulama, cendekiawan, pemerintah, pelaku usaha, budayawan, seniman, praktisi, dan generasi muda dalam kerja nyata.
“Kami tidak sekadar mengenang kejayaan masa lalu, tetapi menjadikannya pelajaran untuk membangun Aceh yang kuat, bermartabat, dan terhubung dengan dunia,” jelas Rafly.[]