KENDARI | SAH – Pengembangan ekonomi syariah di Indonesia masih terkendala dengan empat tantangan, mulai dari tingginya ketergantungan bahan baku halal dari luar negeri, kurangnya inovasi, potensi pasar yang belum tergarap, hingga rendahnya literasi.
Hal itu diungkapkan Deputi Gubernur Bank Indonesia Juda Agung pada acara Festival ekononomi syariah di Kendari, Sulawesi Tenggara. Festival ini digelar 19 Kantor Perwakilan di Kawasan Timur Indonesia (KTI) sejak 7 hingga 10 Juli 2024.
Juda mengungkapkan, ketergantungan bahan baku halal dari luar negeri masih tinggi, seperti bahan pangan yang belum bersertifikasi halal, inovasi keuangan syariah masih terbatas pada basis investor yang belum kuat.
“Potensi pasar yang besar dari dalam negeri belum tergarap dengan baik di tengah potensi Indonesia sebagai pusat modest fashion dunia, selain itu masih rendahnya tingkat literasi produk dan ekonomi syariah yang baru mencapai 28 persen. Ke depan di tahun 2025 Bank Indonesia berupaya untuk meningkatkan literasi hingga 50 persen,” jelas Juda.
Baca Juga: Aceh Kini Miliki 27 Mediator Hubungan Industrial
Untuk menjawab keempat tantangan tersebut, Juda menjelaskan, Bank Indonesia memiliki enam fokus, yaitu pengembangan ekosistem makanan halal melalui akselerasi sertifikasi halal, pengembangan modest fashion dengan mendorong desainer dan pengusaha, pengembangan ekonomi pesantren, pengembangan keuangan syariah melalui kebijakan dan instrumen pasar keuangan, pengembangan digitalisasi eksyar salah satunya melalui aplikasi Satu Wakaf Indonesia, dan penguatan literasi dan edukasi ekonomi syariah.
“Kehadiran festival ekonomi syariah ini bukan hanya sebagai ajang refleksi dan diskusi, tetapi juga sebagai platform sinergi, kolaborasi, aksi konkrit pengembangan eksyar di KTI,” pungkas Juda.[]



