BANDA ACEH | SAH – Komando Aneuk Muda Alam Peudeung (Komandan) Al Asyi mengapresiasi diskusi Kesultanan Aceh dan Alam Peudeueng yang baru-baru ini digelar Milenial Indonesia Aceh – Jakarta, Sabru, 2 Mei 2026 di Coffe Cilandak, Jakarta Selatan.
Diskusi menghadirkan sejumlah pembicara, diantaranya anggaota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Aceh Sudirman alias Haji Uma, akademisi Adli Abdullah, serta tokoh muda Aceh Muhammad Rafsanjani.
Pang Ulee Komandan Al Asyi Tuanku Warul Waliddin menjelaskan, Alam Peudeung adalah simbol Kesultanan Aceh yang mampu bertahan dan berdaulat selama ratusan tahun yang diakui bangsa-bangsa besar di dunia.
Menurutnya, Alam Peudeung adalah representasi Kesultanan Aceh yang mampu membuat Bangsa-bangsa dunia pada masa itu untuk menjaga sikap setiap melewati Selat Malaka, persis seperti bangsa Persia Iran hari ini yang menjadi penjaga selat Hormuz.
“Alam Peudeung adalah simbol pemersatu, bukan simbol pemecah belah, representasi kekinian Sepatutnya generasi hari ini mengambil spirit Alam Peudeung sebagai simbol kekuatan yang sangat mengakar didalam jiwa dan raga rakyat Aceh untuk melangkah ke depan dengan membangkitkan sikap empati dan kepedulian layaknya sikap seorang sultan yang membela dan memperjuangkan hak-hak rakyatnya dalam pemerataan kesejahteraan sehingga tidak menimbulkan jurang yang curam antara pejabat pemerintah dan rakyatnya,” ujar Tuanku Warul.
Tuanku Warul menambahkan, keadilan ini yang dirasa tidak lagi hadir di tengah rakyat Aceh, karena pemimpin Aceh hari ini hanya memikirkan kelompok dan timsesnya dengan membagi-bagikan jabatan dan proyek-proyek.
“Sehingga Alam Peudeung dipandang sebagai solusi kongkrit melihat Aceh dimasa depan dengan wibawa dan marwahnya agar kesejahteraan atau istributive justice dapat terwujud di bumi Aceh,” harapnya.[]


