Oleh: Prof. Yusri Yusuf (Ketua Komisi Pembangunan Adat MAA Provinsi Aceh)
Adat adalah kesepakatan mengenai tata cara kebiasaan hidup manusia yang dijalankan secara turun temurun mengikat ada sebab dan akibat serta tidak tertulis. Sementara Adat-istiadat adalah ceremonial, yaitu tata cara kehidupan masyarakat yang dilakukan pada tempat dan waktu yang telah ditentukan terlebih dahulu untuk mengesahkan atau meresmikan hal tertentu dalam kehidupan pemerintahan dan kemasyarakatan di Aceh.
Adat terbagi atas: (1) adat syar’i (ketata-negaraan), (2) adat aridh (kebiasaan luar yang diadopsikan), (3) adat daruri (penting), (4) adat nafsi (adat itu sendiri), (5) adat nazari (hasil pemikiran), (6) adat ‘uruf (kebiasaan), (7) adat ma’ruf (adat yang dibiasakan), (8) adat muqabalah (adat timbal balik), (9) adat mu’amalah (adat pergaulan sehari-hari), (1) adat ijma’ mahkamah jam’iyah (adat yang disepakati bersama) oleh legislative dan eksekutif)
Kemudian budaya, adalah keseluruhan sikap dan pola perilaku serta pengetahuan yang merupakan suatu kebiasaan yang diwariskan & dimilik oleh suatu anggota masyarakat tertentu. Budaya adalah sebuah pemikiran, adat istiadat atau akal budi. Secara tata bahasa, arti dari kebudayaan diturunkan dari kata budaya dimana cenderung menunjuk kepada cara pikir manusia. Mendefinisikan bahwa pengertian budaya dari pandangan agama islam, adalah khzanah sejarah sekelompok masyarakat yang tercermin didalam kesaksian & berbagai nilai yang menggariskan bahwa suatu kehidupan harus mempunyai makna dan tujuan rohaniah.
Sejak zaman raja-raja, Aceh sudah memiliki tradisi budaya dan adat istiadat. Sebelum Islam, tradisi dan budaya Aceh banyak dipengaruhi oleh budaya Hindu dan Budha yang dibawa oleh orang India dan Cina. Selain itu, juga adanya tradisi lokal yang berbau animisme. Sejak Islam masuk ke Aceh, yang dibawa oleh para pedangan Muslim dari Gujarat, India dan Suku Uyghur dari Cina Bagian Barat, serta pedagang Timur Tengah, khususnya Arab Saudi dan Yaman, mulailah Adat dan Budaya Aceh menerima pengaruh Islam. Kemudian, pada Zaman Pemerintahan Sultan Ali Mughayatsyah (1496–1528 M) diproklamirkan bahwa “Adat dan Budaya Aceh adalah Islam; Semua Adat dan Budaya yang berasal dari Hindu, Budha, dan Animisme disesuaikan dengan Islam; jika ada yang mungkin disesuaikan dengan ajaran Islam, harus dimusnahkan.” Sejak itu, Aceh bersama Adat dan Budayanya adalah Islam.
Adat dan budaya merupakan salah satu pilar keistimewaan Aceh. Predikat dan status istimewa ini tidak lahir dengan sendirinya, tatapi lahir dengan perjuangan yang panjang, mengorbankan harta benda, darah, nyawa, dan air mata. Melalui perjuangan yang panjang itulah, Aceh memperoleh keistimewaan dalam tiga hal, yaitu (1) istimewa bidang agama, (2) istimewa bidang pendidikan, dan (3) istimewa bidang Adat dan Adat Istiadat (budaya).
Karena itu, menjadi kewajiban bagi masyarakat Aceh untuk mengisi keistimewaan itu dengan sempurna agar darah, nyawa, dan air mata tidak korban sia-sia. Pengakuan keistimewaan itu termaktub dalam Keputusan Perdana Mentri RI No. 1/Missi/ 1959, tanggal 26 Mai 1959 yang dikenal dengan Missi Hardi.
Tujuan dan Fungsi Adat
Adapun fungsi Adat bagi masyarakat adalah: Mengatur tatanan masyarakat agar hidupnya aman, damai, sejahtera; Mengatur prilaku masyarakat dalam mengelola alam, binatang, dan tumbuhan untuk kebutuhan bersama; Mengatur hukum dan sanksi bagi yang menyimpang dari tatanan sosial; Mengatur tugas dan fungsi para pemangku adat.
Adat dan Adat Istiadat dapat diklasifikasikan atas empat kategori (Raja Itam, 2003 dan Hakim Nyak Pha, 1990), yaitu: Adatullah, yaitu Adat yang bersumber pada Al-Quran dan Hadis Nabi. Implementasi dari ke dua sumber itu dijadikan Adat dan Adat Istiadat oleh masyarakat. Adat dan Adat Istiadat yang berlaku merupakan penerapan dari Islam.
Adat Muhakamah, yaitu Adat ajaran dan Adat Istiadat yang ditetapkan secara musyawarah dan mufakat, namun tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Adat muhakamah berkaitan dengan aturan (hukum masyarakat, dan sanksinya). Misalnya, adat berladang, adat laut, adat bersawah, adat berjualan, adat mawah, dan lain-lain.
Adatunnah, yaitu Adat dan Adat Istiadat yang tumbuh dalam masyarakat yang dimulai dari suatu kebiasaan yang baik, lalu diikuti dan diteruskan oleh yang lainnya dan diteruskan oleh generasi berikutnya. Walaupun Adat dan Adat Istiadat ini tidak lahir secara musyawarah, namun tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
Adat Jahiliah, yaitu kebiasaan-kebiasaan yang diadatkan oleh masyarakat, tetapi bertentangan dengan ajaran Islam. Adat jenis hanya muncul temporer dan tidak bertahan lama karena tidak ditelerir keberadaannya oleh masyarakat secara umum.
Perbedaan dan Persamaan Adat dan Syariat
Prinsip hidup masyarakat Aceh yang telah didoktrin oleh Indatu sejak zaman Islam masuk ke Aceh adalah: Adat dan Agama Lagee zat ngon sifeuet (Agama dan Adat bagai zat dengan sifat). Adat dan Agama merupakan dua hal yang menyatu, tidak dapat terpisahkan. Dalam bahasa Melayu disebut, “Adat bersendi Syarak, Syarak bersendi kitab Allah”.
Adat dan Agama saling mendukung, saling menopang. Agama membersihkan Adat, dan Adat menguatkan Agama (A. Rahman Kaoy, 2007). Hubungan Adat dan Agama dilambangkan dalam Hadih Maja berikut: Kong reumoh kareuna bajoe lingka puteng, Kong Agama kareuna Adat di geunireng.
Adat berfungsi sebagai penjaga dan pengawal agama, sehingga hampir dapat dipastikan tidak akan sempat melanggar syariat karena sudah terlebih dahulu dihadang oleh pelanggaran Adat. Adat ibarat pagar, sedangkan agama ibarat kebun. Pagarlah yang menjaga agar kebun itu dapat ditanami dengan bermacam bunga dan buah-buahan untuk kenikmatan dunia dan keselamatan di akhirat. Dengan kuatnya adat, masyarakat dapat menjalankan syariat dengan baik dan sempurna.
Dimensi dan Peranan Adat dan Budaya
Secara umum Adat dan Budaya Aceh dapat dilihat dalam tiga dimensi, yaitu: Dimensi Ibadat, Dimensi Hareukat, dan Dimensi bermasyarakat. Ketiga pilar ini biasanya menyatu dalam satu kesatuan proses untuk mendirikan Adat dan budaya masyarakat Aceh. Tinjauan Dimensi ini dilkasifikasikan berdasarkan fungsi adat yang terdapat di Aceh sejak zaman Raja Ali Mughayatsyah (1496-1528).
Dimensi Ibadat (ibadah), yaitu penyelenggaraan Adat dan Budaya yang berkaitan dengan ritual dan nilai-nilai Agama Islam (Syariat Islam). Perintah dan anjuran Islam dipraktekkan dalam Adat dan Adat Istiadat. Contohnya: Memulai sesuatu kegiatan dengan memberi salam, membaca al-Qur’an, dan mengakhirinya dengan do’a; – Bersedekah dan membalas kebaikan orang, sangat dianjurkan dalam Islam. Anjuran ini diungkapkan dalam Hadih Maja “Jirhom ngon bada, tabalah ngon tumpoe’; Kebiasaan membaca Al-Quran saat selesai shalat magrib merupakan Adat bagi masyarakat Aceh. Memperingati Hari Lahirnya Nabi Muhammad SAW diadatkan dengan Keunduri Maulut di Aceh; Mensyukuri rahmat Allah Swt dengan melaksanakan kenduri.
Dimensi Hareukat, yaitu penyelenggaraan Adat dan Budaya berkaitan dengan usaha perekonomian dan hajat hidup masarakat. Untuk ini dibuatlan Adat dan Budaya tentang bersawah, bertani, berladang, melaut, memelihara pantai, sungai, hutan, berjualan, mawah (sawah/ ternak) dan lain-lain. Contohnya: Adat turun ke sawah, adat mengatur tali air, dan irigasi; Adat menangkap ikan di laut; Adat mengerjakan/ membuka lading di hutan; Adat menjada daerah aliran sugai (DAS).
Dimensi Meumasyarakat, yaitu penyelenggaraan Adat dan Adat Istiadat yang berkaitan dengan tatanan kemasyarakatan, kepentingan bersama, kesetaraan, kesetiakawanan, ketentraman, kedamaian, kepatutan, kewenangan, keadilan, dan kekerabatan. Contohnya: Adat gotong royong atau meuseuraya; Adat saling member/ menyumbang pada setiap acara prosesi Adat dan Adat Istiadat; Adat meu-urub dalam mengerjakan sawah atau lading; Adat saling menjaga keberadaan dan perkembangan anak-anak.
Nilai-nilai yang dikandung Adat dan Budaya Aceh
Nilai merupakan cita-cita yang ingin diwujudkan oleh suatu masyarakat untuk menjaga kelangsungan hidupnya. Nilai itu berhubungan erat dengan pandangan hidup (ideology) suatu komunitas. Nilai itu bersifat normatif dan menjadi acuan bagi cita-cita masyarakatnya.
Adapun nilai-nilai Adat dan Budaya Aceh yang selalu didoktrin sejak dahulu kepada anak-anak Aceh adalah Nilai Takzim, Patuh, Hormat, dan Mulia (Terutama kepada Orang tua, Guru, dan Tokoh Adat serta tokoh Agama di Gampong dan Mukim)
Ayah ngon Ma lhee ngon guree, Ureung nyan ban lhee tapeumulia
Takzim keu Guree meuteumee ijazah, takzin keu Nambah meuteumee hareuta, takzim ke Raja meuteumee pangkat, takzim ke Hadharat meuteumee syuruga
Nilai Kejujuran dan Tanggung Jawab (Amanah)
Tapeugah lagee buet, tapubuet lagee na
Nyang na bek tapeutan, nyang tan bek tapeuna
Harab bek binasa, amanah bek meutuka
Luka tasipat, darah ta sukat
Meunyoe ka bak u hanjeut bak pineung
Cap di bate labang di papeun, lagee ban takheun hanjeut meutuka.
Nilai Rajin dan Mandiri (Etos Kerja)
Jak lagee jak langai, duek lagee due karee.
Sira tajak tamita situek, bak taduek tacob keu tima
Buet tasambee, keumawe pih beuna
Bek taharap jeuleupak gob top
Meunyoe hana payan, pane na paedah
Meunyoe na ta useuha dak han kaya taduek seunang.
Meugrak jaroe, meu-‘ek gigoe.
Nilai Keberanian, Kepahlawanan dan Kebenaran
Reudok keu tungkat, kilat keu suwa”
Meunyoe got niet ngon kasat, donya akhirat Tuhan peulhara”
Menyue han ‘ek taputa lungkee, taputa geulunyueng.
Pet mata kab gigoe, jok droe bak Allah Ta’ala.
Nilai Setia dan Balas Budi
Jirhom ngon bada, tabalah ngon tumpoe
Jirhom ngon nuda tabalah ngon bajoe
Hana guna u na guna teubee, hana guna jinoe na guna dilee
Meunyoe ka atee pade tatop
Nilai Syukur, Sabar, dan Ikhlas
Meunyoe ka sikai han lee sicupak
beurangho tajak ka ‘oh nan kada
Harok tapiyoh, teudoh tateubit
Tajak ban laku linggang, tapinggang ban laku ija
Tanguei ban laku tuboh, tapajok ban laku atra.
Bek taboh bungkoh beuneung, bah meuteumeng bungkoh sutra.
Menyoe hana raseuki nyang bak bibi rhot u guha
Ureung nyang me hana geuhot, pakon nyang kalon brat si gunca.
Berfikir Positif dan Kreatif
Sipat tak dua pat luhok, sigoe catok du pat pula
Menyoe got padee di lang padum keuhna tulo pajoh
Nilai Musyawarah dan Gotong Royong (Meuseuraya)
Meunyoe ka pakat, lampoh jrat tapeugala
Ta hue panyang, talingkang paneuk
Hudep lagee tarek pukat, ladom bak lamat ladom bak kaja.
Beuthat tameh surang sareng asai puteng jilob lam bara.
Nilai Realistis
Tajak beutroh takalon beudeuh bek rugoe meuh saket ate
Boh jok boh beulangan, watee troh taboh nan
Bek ceupeup boh pu-uk ro breuh lam umpang
Peurele phang phangphoe publoe hareuta, peurele papa ceumarot beuthat.[]



