BANDA ACEH | SAH — Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh hingga kini merawat 676 pasien penderita thalassemia. Hal itu disampaikan dokter spesialis yang bertugas di Poli Thalasemia RSUDZA, dr.Eka Destianti SpA(K), ketika menemani Pj Ketua PKK Aceh, Mellani Subarni, mengunjungi penderita thalassemia yang dirawat di RSUDZA, Rabu, 8 Mei 2024.
Eka mengatakan, saat ini tercatat jumlah pasien thalasemia yang menjalani pengobatan di rumah sakit tersebut mencapai 676 pasien. Mereka berasal dari berbagai daerah di Aceh dengan beragam usia, mulai anak-anak hingga dewasa.
Kedatangan Mellani disambut para dokter yang bertugas di Poli Thalasemia RSUDZA serta pihak Yayasan Darah Untuk Aceh. Disana Mellani terlihat menyapa para pasien dan keluarga pasien saat mereka menjalani proses transfusi darah.
Baca Juga: pt-pema-kirim-14-ton-ikan-tangkapan-nelayan-aceh-ke-jawa
Thalasemia adalah kelainan darah bawaan yang ditandai oleh kurangnya protein pembawa oksigen (hemoglobin) dan jumlah sel darah merah dalam tubuh yang kurang dari normal. Para penderita thalasemia umumnya harus menjalani transfusi darah seumur hidup mereka.
“Karena hari ini Hari Thalasemia, saya berkesempatan hadir di sini untuk memberi semangat, karena mereka membutuhkan transfusi darah mungkin bisa dibilang seumur hidupnya,” kata Mellani di sela kunjungan.
Mellani menjelaskan, para pasien thalasemia yang dirawat di RSUDZA membutuhkan tingkat pengobatan yang berbeda, di mana ada yang harus menjalani transfusi rutin setiap minggunya hingga setiap bulan.
Mengingat kebutuhan transfusi darah yang rutin untuk para pasien thalasemia, Mellani mengimbau kepada masyarakat Aceh untuk aktif mendonorkan darah mereka sebagai upaya bersama membantu pasien. “Marilah kita mendonorkan darah, karena setetes darah kita sangat dibutuhkan oleh anak-anak kita, terutama pasien thalasemia,” ajak Mellani.
Baca Juga: bangun-sinergitas-pp-ika-usk-gelar-raker-perdana
Sementara itu, Ketua Yayasan Darah untuk Aceh, Nurjannah Husein mengatakan, data yang dirilis Kementerian Kesehatan RI mencatat 676 pasien thalasemia di Aceh yang menjalani perawatan menggunakan BPJS Kesehatan.
Namun begitu pihaknya mengungkap masih ada penderita thalasemia di berbagai daerah yang belum terdata dengan baik sehingga belum mendapatkan perawatan maksimal.
Nurjannah menjelaskan, thalasemia bisa diturunkan secara genetik bila salah satu pasangan memiliki sifat pembawa thalasemia. Karenanya untuk mencegah thalasemia, sangat penting untuk melakukan skrining thalasemia sebelum menikah untuk mendeteksi pembawa hemoglobinopati.
“Otomatis pada saat tidak dilakukan skrining pra nikah atau jauh hari sebelumnya, kemungkinan ketemu pasangan sesama pembawa sifat thalasemia itu tinggi, jadi akan ada lagi penderita (anak yang dilahirkan) dengan kondisi thalasemia,” ujar Nurjannah.[]



