BREAKING
Internasional

Tuanku Warul Serahkan Alam Peudeung Kepada Meurah Silu Perak Rekat Kembali Hubungan Kesultanan Aceh dengan Semenanjung

Tuanku Warul Waliddin menyerahkan bendera Alam Peudeung kepada Radzi Sapiee sebagai simbol persahabatan. Foto: IST

BANDA ACEH | SAH — Hubungan sejarah antara Aceh dan Semenanjung kembali menjadi perhatian dalam sebuah pertemuan antara tokoh Aceh dengan penggiat sejarah dari Malaysia.

Dalam sebuah kunjungan ke Banda Aceh, pada, Ahad 30 Agustus 2026, Mohd Fahrulradzi Mohamad Sapiee, yang lebih dikenal dengan nama Meurah Silu dari Perak, Malaysia, hadir bersama rombongan Hikmah Malaysia ke Banda Aceh.

Pertemuan tersebut menjadi ruang untuk membicarakan kembali hubungan sejarah, kebudayaan, dan peradaban antara Aceh dan Semenanjung yang telah terjalin sejak masa Kesultanan Aceh.

Dalam pertemuan tersebut, cicit Sultan Aceh Tuanku Warul Waliddin mengajak para tokoh, budayawan, serta penggiat sejarah di Semenanjung untuk kembali menjalin hubungan yang lebih erat dengan Aceh.

Menurutnya, hubungan tersebut bukan semata-mata bernostalgia dengan masa lalu, tetapi dapat menjadi landasan untuk membangun harmoni dan kemajuan peradaban masyarakat di kedua kawasan yang sejak dahulu dihubungkan oleh Selat Malaka.

“Kita perlu kembali menjalin hubungan dan harmoni antara Aceh dengan Semenanjung. Ini penting bukan hanya untuk memahami masa lalu, tetapi juga untuk membangun peradaban dan memberikan spirit kepada generasi yang akan datang agar tidak lupa akan identitas dan akar sejarahnya,” ujar Tuanku Warul Waliddin.

Pang Ulee Komando Aneuek Muda Alam Peudueng (Komandan) Al Asyi ini menilai bahwa dinamika kehidupan masa kini telah membawa berbagai pengaruh yang semakin kompleks. Karena itu, generasi muda perlu kembali mengenal sejarah, budaya, serta identitas peradaban yang membentuk masyarakat Aceh dan Semenanjung.

Menurutnya, hubungan Aceh dengan Semenanjung merupakan bagian penting dari sejarah kawasan Selat Malaka. Jejak hubungan tersebut dapat ditemukan dalam berbagai aspek, mulai dari perdagangan, keilmuan, agama, kebudayaan, hingga hubungan politik dan keluarga kerajaan.

Hal senada disampaikan Radzi Sapiee. Ia menegaskan bahwa hubungan antara Aceh dan Malaysia memiliki akar sejarah yang panjang dan tidak dapat dipisahkan dari perjalanan Kesultanan Melayu dan Kesultanan Aceh.

“Hubungan Aceh dengan Malaysia sangat tidak bisa terlepas, sejak zaman kesultanan hingga hari ini,” ungkap Radzi Sapiee.

Alam Peudeung sebagai Simbol Perekat Sejarah

Di penghujung pertemuan, Tuanku Warul Waliddin menyerahkan bendera Alam Peudeung kepada Radzi Sapiee sebagai simbol persahabatan dan upaya memperkuat kembali hubungan sejarah antara Aceh dan Semenanjung.

Bendera tersebut dimaknai bukan sekadar sebagai sebuah benda simbolik, tetapi sebagai pengingat terhadap identitas dan warisan sejarah Kesultanan Aceh Darussalam serta spirit peradaban Islam di kawasan Selat Malaka.

Penyerahan Alam Peudeung tersebut menjadi simbol bahwa hubungan Aceh dan Semenanjung tidak seharusnya berhenti sebagai catatan sejarah, tetapi dapat kembali dihidupkan melalui hubungan antargenerasi, kebudayaan, kajian sejarah, dan kerja sama peradaban.

Sebaliknya, dalam kesempatan yang sama, Radzi Sapiee menyerahkan sebuah buku karya beliau dengan Judul Laksamana Raja Mahkota Muhammad Amin, kepada Tuanku Warul Waliddin, sebagai bagian dari pertukaran gagasan dan pengetahuan mengenai sejarah dan peradaban Alam Melayu.

Pertukaran simbol dan karya tersebut menjadi pesan bahwa sejarah tidak hanya diwariskan melalui tulisan, tetapi juga melalui hubungan manusia yang menjaga ingatan kolektifnya.

Bagi kedua tokoh, Aceh dan Semenanjung merupakan dua kawasan yang dipisahkan secara geografis oleh Selat Malaka, tetapi memiliki begitu banyak simpul sejarah yang menghubungkan keduanya.

Alam Peudeung pun menjadi simbol perekat—menghubungkan kembali ingatan sejarah Aceh dengan Semenanjung dan menghidupkan spirit peradaban untuk generasi masa depan.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *