BREAKING
Daerah

Tuanku Warul Serahkan Bendera Alam Peudueng Kepada Waris Sultan Asahan

Tuanku Warul Waliddin menyerahkan Bendera Alam Peudeung kepada Tengku Zainal Arifin. Foto: SAH

BANDA ACEH | SAH – Tuanku Warul Waliddin cicit Sultan Muhammad Daudsyah dari Kesultanan Aceh menyerahkan bendera alam peudeung kepada Tengku Zainal Arifin bin Tengku Sulaiman, cicit Tengku Alang Yahya yang pernah menjadi Tengku Regent/Pemangku Kesultanan Asahan pada periode 1914–1934.

Tuanku Warul Waliddin menjelaskan, pertemuan dua zuriat keluarga kesultanan yang memiliki pertalian sejarah tersebut menjadi momentum penting untuk kembali merajut hubungan kekeluargaan antara Aceh dan Asahan yang telah terjalin sejak masa lampau.

Menurut Tuanku Warul, hubungan sejarah Aceh dan Asahan memiliki akar yang panjang. Dalam sejumlah riwayat sejarah, Sultan Iskandar Muda disebut memiliki hubungan perkawinan dengan Siti Ungu Selendang Bulan, putri dari wilayah Asahan, yang disebut sebagai Putri Raja Pinang Awan (Batara Sinomba).

“Hubungan tersebut kemudian menjadi salah satu bagian dari sejarah genealogis yang menghubungkan keluarga Kesultanan Aceh dengan keluarga Kesultanan Asahan hingga menjadi cikal bakal lahirnya Kesultanan Asahan dengan Sultan pertamanya Sultan Abdul jalil bin Sultan Iskandar Muda yang berkuasa sejak 1630,” ungkap Tuanku Warul.

Pertemuan kedua zuriat ini diawali dengan sebuah kunjungan ke Komplek Baperis Kandang Meuh, kawasan makam Sultan Iskandar Muda dan keluarga Kesultanan Aceh.

Dalam kesempatan tersebut, Tengku Zainal Arifin bin Tengku Sulaiman berziarah ke makam leluhurnya, Sultan Iskandar Muda. Pada waktu yang bersamaan, beliau juga bertemu dengan Tuanku Warul Waliddin yang sedang berada di makam ayahandanya, Tuanku Raja Yusuf. Bagi Tuanku Warul, pertemuan tersebut bukan sekadar sebuah kebetulan.

“Pertemuan ini bukan kebetulan, tetapi merupakan takdir Allah SWT yang mempertemukan kembali dua zuriat keluarga Kesultanan Aceh dan Kesultanan Asahan,” jelasnya.

Dari pertemuan di kompleks makam tersebut, silaturahmi kemudian dilanjutkan dalam suasana jamuan santai di Banda Aceh. Dalam kesempatan itu, Tuanku Warul menyampaikan pesan agar hubungan sejarah antara Aceh dan Asahan tidak berhenti hanya sebagai catatan masa lalu.

“Hubungan erat yang telah terjalin pada masa lalu jangan sekadar menjadi sejarah. Mari kita rajut kembali hubungan silaturahmi ini agar semakin erat dan dapat memberikan manfaat serta kemajuan bagi kedua keluarga kesultanan di masa depan,” ajak Tuanku Warul.

Sebagai simbol persaudaraan dan ikatan sejarah tersebut, pada akhir pertemuan Tuanku Warul Waliddin menyerahkan Bendera Alam Peudeung kepada Tengku Zainal Arifin.

Penyerahan Alam Peudeung tersebut dimaknai sebagai simbol persatuan, persaudaraan, dan pengingat akan hubungan sejarah antara Aceh dan Asahan yang telah terjalin sejak masa Kesultanan Aceh Darussalam.

Bagi Tuanku Warul, Alam Peudeung bukan sekadar sebuah simbol sejarah, tetapi juga menjadi pesan agar generasi penerus dari kedua keluarga kesultanan terus menjaga tali silaturahim yang sangat kuat akar sejarah yang menghubungkan mereka. Dari Aceh untuk Asahan, dari sejarah menuju masa depan.

“Semoga pertemuan ini menjadi awal dari semakin eratnya hubungan silaturahmi antara zuriat Kesultanan Aceh dan zuriat Kesultanan Asahan, sekaligus menjadi jembatan untuk menggali kembali sejarah, budaya, dan persaudaraan yang telah diwariskan oleh para leluhur,” harap Tuanku Warul Waliddin, yang juga Ketua Yayasan Sultan Alaidin Manayursyah.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *