Redaksi SAH

Konsumsi Beras Indonesia Melebihi Standar Kecukupan Global

FAO, Featured, Konsumsi Beras, Otoritas Jasa Keuangan

JAKARTA | SAH – Konsumsi beras per kapita Indonesia sebesar 81.04 kg per kapita per tahun, jauh di atas standar yang ditetapkan Food and Agricultue Organization (FAO) 60-65 kg per kapita per tahun. Konsumsi beras penduduk Indonesia telah melebih standar kecukupan global.

Kepala Eksekutif Pengawaan Perbankan OJK, Dian Ediana Rae dalam Laporan Surveillance Perbankan Indonesia Triwulan III 2023 mengungkapkan, produksi beras dalam negeri terus menurun dalam beberapa tahun terakhir sehingga tidak bisa memenuhi kebutuhan konsumsi beras perkapita nasional yang terus meningkat.

Indonesia harus mengimpor beras untuk menjaga kecukupan pasokan beras di dalam negeri sekaligus untuk menjaga kestabilan harga. Namun demikian, di sisi lain, upaya ini menyebabkan ketergantungan terhadap impor beras semakin tinggi sehingga menimbulkan berbagai dampak negatif seperti meningkatkan beban APBN dan penurunan cadangan devisa.

Dian merincikan, perkembangan jumlah produksi padi pada pada tahun 2023 menunjukkan kontraksi sebesar -2,05% (yoy) menjadi 53,63 juta ton dari 54,75 juta ton pada tahun sebelumnya. Luas panen padi di Indonesia tahun 2023 juga mengalami kontraksi -2,45% (yoy) yaitu turun dari 10,45 juta hektar pada tahun sebelumnya menjadi 10,2 juta hektar.

“Apabila dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi pangan, maka produksi beras diperkirakan sebesar 30,90 juta ton pada 2023. Jumlah tersebut turun sebanyak 645,09 ribu ton atau terkontraksi -2,05% (yoy) dibandingkan produksi beras 2022 sebesar 31,54 juta ton,” ungkapnya.

Dian menambahkan, perubahan iklim yang tidak menentu menjadikan datangnya musim hujan dan kemarau makin sulit diprediksi sehingga dapat mengganggu musim tanam dan hasil produksi. Tak ayal, fenomena ini memberikan dampak negatif pada gangguan produksi tanaman pangan utamanya padi di berbagai wilayah di dunia. Hasil studi IMF juga menyebutkan bahwa kekeringan akibat El Nino bisa memicu turunnya produksi pertanian diikuti kenaikan harga komoditas pangan.

Selain isu perubahan iklim, produksi tanaman padi juga terkendala oleh kenaikan biaya produksi akibat melambungnya harga pupuk di seluruh dunia sejak 2021. Kenaikan harga pupuk ini dipicu antara lain: meningkatnya harga gas alam sebagai bahan baku utama dalam produksi pupuk; pembatasan ekspor bahan baku pupuk oleh Rusia dan Tiongkok; dan tingginya permintaan pupuk terutama dari negara-negara berkembang yang sedang mengembangkan sektor pertaniannya. Sebagai implikasinya, petani mulai mengurangi penggunaan pupuk sehingga berdampak pada menurunnya produktivitas pertanian.

“Dampak kombinasi dari kedua faktor tersebut telah berpengaruh bagi produksi beras global yang menyebabkan kenaikan harga secara luas serta memicu kekhawatiran mengenai ketahanan pangan,” tambahnya.

Indeks harga sejumlah jenis beras meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir sebagai respons terhadap kelangkaan beras dunia. Indeks harga beras dunia mencatatkan rekor tertinggi dalam lima tahun terakhir yaitu mencapai 142,4 poin pada Agustus 2023.

Sementara itu, berdasarkan jenisnya, beras Indica memiliki indeks harga tertinggi dibandingkan jenis beras lainnya mencapai 151,8 poin pada September 2023. Beras Indica merupakan salah satu jenis beras terpopuler yang paling umum dibudidayakan di Asia terutama India dan Asia Tenggara. Jenis beras ini memiliki kualitas yang lebih tinggi, bulir lebih ramping dan panjang, tekstur lebih pulen, serta aroma khas, sehingga lebih diminati oleh konsumen dari berbagai negara dibandingkan jenis padi lainnya.

Kelangkaan pasokan beras turut berimbas pada harga rata-rata beras pedagang eceran nasional yang merangkak naik. Badan Pangan Nasional mencatat harga beras premium meningkat cukup signifikan sebesar 17,87% (yoy) dari Rp12.590,00/kg menjadi Rp14.840,00/kg pada September 2023. Hal serupa terjadi pada harga beras medium yang tumbuh lebih tinggi dibandingkan beras premium yaitu sebesar 19,84% (yoy) dari Rp11.040,00/kg pada September tahun lalu menjadi Rp13.230,00/kg. Kenaikan harga beras premium maupun medium terjadi secara merata hampir pada seluruh wilayah di Indonesia.

Komoditas beras merupakan salah satu penyumbang kenaikan inflasi. Tingkat inflasi pada September 2023 tercatat 2,28% (yoy) dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 115,44. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan inflasi September 2022 sebesar 5,95% (yoy) dan bulan sebelumnya sebesar 3,52% (yoy) serta masih berada di dalam rentang target inflasi 3%±1%. Tren melandainya tingkat inflasi Indonesia memang telah terjadi sejak triwulan-I 2023. Sebelumnya, inflasi tahunan (yoy, 2023) pada bulan Maret tercatat 4,97%, April 4,33%, Mei 4,00%, Juni 3,52%, Juli 3,08%, namun sedikit lebih tinggi pada Agustus 2023 menjadi 4,69%.

“Bagaimanapun, kenaikan harga beras akan meningkatkan biaya hidup masyarakat terutama pra-sejahtera dan dapat menyebabkan penurunan daya beli hingga kenaikan angka kemiskinan dan kelaparan. Kenaikan harga pangan merupakan salah satu faktor utama yang mendorong lonjakan inflasi global,” pungkasnya.[]

Leave a Comment