Tuesday, 27 October 2026

Suara Aceh Headline

Informatif, Edukatif, Solutif

Opini

Koordinator Perwakilan KP3 ABAS Banda Aceh Versi Asli yang Berlaku

Adnan NS

Oleh : H. Adnan NS, S.Sos, M.AP (Tokoh Barsela, mantan anggota DPD RI)

Pemisahan Aceh Singkil-Subulussalam dari KP3-ABAS versi asli adalah diduga kerja keras  oknum berambut cepak berbaju sipil sejak dua tahun lalu(lihat SK lama 2003).

Pemodal gerakan perpecahan warga dan geografi wilayah ABAS atau Barsela ini diduga keras dialiri deras dari kelompok tokoh ALA yang haus wilayah geografinya.

Orang ABAS “bangai” yang ikut menyambut rekayasa pihak ketiga dari unsur non Aceh yang diperalat kelompok ALA ini, diduga akan menerima konvensasi berupa HGU dan lahan kopi produktif, asal ALA asal bisa”merampas” wilayah geografi Singkil Subulussalam.

Benar, awalnya Almarhum Bupati Singkil masa itu Makmursyah Putra, SH pada awal tahun 2003 dia ikut membubuhkan  tandatangan pada KP3-ALA.Waktu berjalan, menjelang akhir 2003 Makmursyah  Putra yang menyadari dirinya lahir di Bumi leluhur Syech Abdurrauf pun kembali menurunkan tandatangan dalam KP3-ABAS bersama bupati lainnya: Macsalmina Bupati Aceh Selatan, Baharuddin PJ. Bupati Abdya, Zulkarnaini PJ.Bupati Nagan Raya, Nasruddin Bupati Aceh Barat dan almarhum Ibnu Aban GT. Ulma Wakil Bupati Simeulue(atas persetujuan Bupati Darmili)

Setelah terbentuk KP3-ABAS, Harian Waspada Medan atas komentar Adnan NS menurutkan judul:Makmursyah Putra dalam wacana pemekaran dua provinsi di Aceh Berdiri Dua Kaki.

Saat mendapat reaksi dari warga Singkil (sebelum lahir Kota Subulussalan 2006), Makmur berkilah. “Kita ambil mana yang duluan mekar” saja. Sikap itu untuk meredam kemarahan warga dan ini sikap inkonsistennya.

Makmur sendiri awalnya memang benar ikut dalam gagasan awal “Cet Langet” di Berastagi bersama para bupati lain:Bener Meriah, Aceh Tengah, Gayo Lues dan Aceh Tenggara(4 kabupetan ALA+ 1 Singkil).

Syarat minimal pemekaran mejadi satu provinsi harus ada lima kabupaten-kota.Tanpa Singkil atau Subulussalam ALA tak bisa jadi provinsi tersendiri.Pertanyaannya, mengapa ALA selama tenggang waktu 23 tahun tidak berusaha memekar sebuah kota, katakan Pemko Takengon??. Kaan bisa sj saja ikota Aceh Tengah pindah ke Pegasing atau Isaq? Calon DOB Pemko Memulaboh saja yang baru beberapa tahun berjuang susah meuciep-ciep(hampir mebetas).Hanya menanti PP saja lagi.

Saya kuwatir, jika saja Singkil-Subulussalam masuk ke ALA, maka bisa jadi dua daerah ini akan diperlakukan semacam Suku Kurdi di Irak.Selain bahasa, budaya, adat istiadat dan geografinya tidak nyambung, juga  ALA banyak orang pinter, kita Singkil-Subulussalam tahu sendiri kaaa?

Penggabungan dua calon provinsi menjadi satu nafas ALAABAS, juga sudah diikrarkan para pendahulu kita MEDAN  CLUB, jika tak salah 10-10-0010.Sedangkan Deklarasi Provinsi ABAS juga sudah dilakukan di Hotel Meuligoe Meulaboh, jika tak salah November 2012(Baca Headline Serambi Indonesia)

Lalu mau apa lagi ALA-ABAS ditambal sulam lagi di Meulaboh. Apakah yang dulu kesempatan di Medan uji coba atau ecek, seperti peristiwa proklamasi RI di Rengas Denklok?[]

Tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *