Redaksi SAH

Gros Merchandise Value Ekonomi Digital Indonesia Capai 90 Miliar Dolar AS

Ekonomi Digital, Featured, Fintech, Otoritas Jasa Keuangan

JAKARTA | SAH – Gross Merchandise Value (GMV) ekonomi digital Indonesia mencapai 90 miliar dolar AS pada tahun 2024, tumbuh 13% dibanding pada tahun sebelumnya. Nilai tersebut diperkirakan akan mencapai 200 hingga 360 miliar dolar AS pada 2030 mendatang.

Angka tersebut terungkap dalam laporan e-conomy SEA 2024 dari Google, Temasek, dan Bain & Co yang dipaparkan pada perayaan Bulan Fintech Nasional (BFN) 2024 yang digelar sejak Senin, 11 November hingga Kamis, 12 Desember 2024.

Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hasan Fawzi mengatakan bahwa OJK mengarahkan ekosistem keseluruhan keuangan digital di Indonesia selain bertumbuh dengan cepat juga menuju ke arah yang bisa memberikan manfaat.

“Bermanfaat tidak hanya bagi para pelaku bisnis dan kegiatan di industrinya saja tapi juga berdampak kepada peningkatan dan manfaat kegiatan di sistem keuangan dan tentu mendukung pertumbuhan perekonomian nasional,” kata Hasan.

Hasan menambahkan, OJK sedang menyiapkan Pusat Inovasi dengan konsep pentahelix yang akan menjadi pusat kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, masyarakat, akademisi dan media dengan tujuan mendukung pertumbuhan perusahan inovatif di sektor keuangan.

Baca Juga: Simpanan Generasi Milenial dan Gen Z Capai Rp1.285,3 Triliun

Pada acara yang sama, Ketua Umum AFTECH, Pandu Sjahrir menyatakan, sebagai Asosiasi bagi penyelenggara industri fintech (ITSK), AFTECH terus memegang komitmen untuk bekerjasama dengan regulator OJK, BI dan Pemerintah dalam menciptakan inovasi keuangan digital yang bertanggungjawab serta mendorong peningkatan inklusi dan literasi keuangan, serta turut mengakselerasi pertumbuhan ekonomi digital Indonesia.

Salah satu wujud kolaborasi yang dilakukan, AFTECH kembali memimpin inisiatif diselenggarakannya Bulan Fintech Nasional (BFN) 2024 bersama OJK, AFSI, dan AFPI, serta didukung oleh BI sebagai momentum untuk memperkenalkan ragam produk dan layanan fintech kepada masyarakat Indonesia. Sepanjang Bulan Fintech Nasional 11.11 – 12.12.2024, masyarakat Indonesia akan diperkenalkan dengan berbagai jenis bisnis model fintech yang ada di Indonesia dengan menghadirkan berbagai serangkaian kegiatan edukatif melalui penyelenggaraan webinar serta program insentif dari berbagai perusahaan fintech terkemuka.

Sementara itu Ketua Umum AFSI, Ronald Yusuf Wijaya menegaskan, sebagai bagian dari ekosistem fintech, AFSI memandang bahwa kolaborasi dalam Bulan Fintech Nasional ini adalah langkah strategis untuk memastikan bahwa fintech syariah juga berperan aktif dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Kami harap momentum ini dapat memperkuat upaya kami dalam meningkatkan literasi dan inklusi produk keuangan digital syariah dan menghadirkan produk dan layanan yang relevan untuk masyarakat Indonesia,” ujarnya.

Baca Juga: AWPF Gelar Sekolah Kebangsaan Tular Nalar di UIN Ar-Raniry

Di sisi lain, Sekretaris Jenderal AFPI, Tiar Karbala menjealskan, di tengah pertumbuhan industri fintech yang pesat, AFPI menempatkan perlindungan konsumen dan edukasi sebagai prioritas utama. Bulan Fintech Nasional menjadi momen penting bagi AFPI untuk berkolaborasi dengan OJK, AFTECH, dan AFSI dalam memperkuat literasi keuangan, mendorong pertumbuhan industri yang sehat, serta meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap layanan keuangan digital.

Di sisi lain, berdasarkan hasil suvey AFTECH AMS 2024, diketahui bahwa sebanyak 89,3% perusahaan anggota telah melakukan kemitraan dengan ekosistem ekonomi digital untuk meningkatkan pertumbuhan dan inovasi. Sebanyak 66% perusahaan anggota telah melakukan kerjasama dengan Bank serta sebanyak 35% perusahaan anggota melakukan inisiatif untuk menjalin kemitraan strategis dengan Pemerintah.[]

Leave a Comment