JAKARTA | SAH – Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan masih terpusat di lima provinsi, yaitu Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sumatera Utara dengan total porsi 77,80%. Porsi terbesar berada di DKI Jakarta (52,47%)
Hal itu terungkap dalam Laporan Surveillance Perbankan Indonesia Triwulan III 2023 yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK) baru-baru ini. Kepala Eksekutif Pengawasan Perbankan OJK Dian Ediana Rae dalam laporan tersebut menjelaskan, DPK merupakan sumber utama pendanaan bank yaitu mencapai 91,23% dari total sumber dana perbankan, diikuti pinjaman yang diterima (2,97%) dan kewajiban kepada bank lain (2,24%).
Pada triwulan III 2023 DPK Bank Umum tumbuh 6,54% (yoy), sedikit melambat dibanding tahun sebelumnya sebesar 6,77% (yoy). Berdasarkan jenis usaha, DPK tercatat melambat pada BUS yang tumbuh 6,04% (yoy) setelah tahun sebelumnya tumbuh sebesar 19,54% (yoy). Di sisi lain, DPK pada Bank Umum Konvensional (BUK) cenderung meningkat jika dibandingkan periode sebelumnya yang tumbuh dari 6,13% (yoy) menjadi 6,56% (yoy).
Perlambatan pertumbuhan DPK terjadi pada komponen giro dan tabungan yang tercatat tumbuh masing-masing 9,84% (yoy) dan 2,03% (yoy), melambat dari tahun lalu sebesar 13,52% (yoy) dan 10,05% (yoy). Di sisi lain, deposito yang merupakan komponen DPK dengan porsi terbesar (38,04%) tumbuh 7,91% (yoy), meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang terkontraksi -0,47% (yoy), seiring dengan peningkatan tren suku bunga deposito sejak setengah tahun terakhir.
Berdasarkan valuta, DPK Rupiah yang juga merupakan komponen dengan porsi terbesar (85,10%) tercatat tumbuh 6,29% (yoy), melambat dibandingkan tahun sebelumnya yang tumbuh 6,50% (yoy). Sejalan dengan perlambatan pada DPK Rupiah, DPK Valas tercatat tumbuh 7,98% (yoy), melambat dibandingkan tahun sebelumnya yang mampu tumbuh 8,37% (yoy). Jika menggunakan kurs tetap, DPK Valas tercatat tumbuh sebesar 6,04% (yoy), meningkat dibanding tahun sebelumnya yang tumbuh 1,69% (yoy).
Berdasarkan kelompok bank, sebagian besar DPK berada di kelompok Bank Umum Swasta Nasional (BUSN) sebesar 44,89%, diikuti Bank milil Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebesar 42,96%. DPK BUSN tumbuh melambat menjadi 5,54% (yoy) setelah tahun sebelumnya tumbuh 7,59% (yoy). DPK Kantor Cabang Bank Luar Negero (KCBLN) terkontraksi -2,35% (yoy) setelah tahun sebelumnya mampu tumbuh 16,86% (yoy). Selain itu, Kelompok Bank Pembangunan Daerah (BPD) juga mengalami perlambatan DPK di mana tahun sebelumnya mampu tumbuh 5,81% (yoy) menjadi 3,21% (yoy). Di sisi lain, DPK BUMN justru tumbuh 9,07% (yoy) meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang tumbuh 5,38% (yoy). Namun demikian, pertumbuhan DPK BUMN belum dapat menarik ke atas pertumbuhan DPK Bank Umum secara total.[]



