BANDA ACEH | SAH – Ketua Majelis Adat (MAA) Aceh Prof. Dr. Drs. Yusri Yusuf, M.Pd mendukung rekomendasi muzakarah ulama Aceh yang digelar di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Ahad, 14 Desember 2025.
Ada 23 rekomendasi yang dihasilkan dalam muzakarah tersebut, 11 rekomendasi terkait bencana hidrometeorologi di Aceh dan 12 rekomendasi terkait keseragaman ibadah di masjid dan penguatan peran ulama.
Prof. Yusri Yusuf menegaskan, di tengah musibah bencana yang melanda Aceh khususnya dan Sumatera umumnya, ulama menjadi simbol pemersatu, pembangkit semangat, sekaligus penjaga akidah umat.
“Kita dukung penuh apa yang sudah direkomendasikan dalam muzakarah ulama Aceh sebagai ikhtiar kolektif dalam menyembuhkan luka rakyat Aceh akibat bencana. Ulama merupakan pelita di tengah kegelapan, penjaga akidah umat. Semoga duka akibat musibah banjir ini cepat diangkat oleh Allah SWT dan kondisi masyarakat Aceh cepat normal Kembali,” ujar Prof. Yusri Yusuf.
Baca Juga: Ketua MAA Imbau Masyarakat Ikut Ambil Peran dalam Penanganan Msibah Banjir
Prof. Yusri Yusuf menambahkan, di tengah kondisi Aceh yang masih diselimuti duka, setuan ulama Aceh untuk penguatan solidaritas antar sesama masyarakat sudah tepat, masyarakat harus saling bahu membahu saling membantu saudara yang terdampak musibah.
Adat dan kearifan lokal Aceh terkait mitigasi dan penanganan bencana perlu dihidupkan kembali di tengah masyarakat, sehingga terbentuk masyarakat yang tangguh dan sadar bencana.
“Endatu kita dalam adat Aceh dan keraifan lokal telah mengajari kita bagaimana menjaga lingkungan. Sejak zaman kesultanan Aceh Darussalam kita sudah memiliki berbagai lembaga adat seperti pawang uteuen, pawang gle, peutua seuneubok, dan lain sebagainya yang menjaga agar alam tidak diekploitasi secara berlebihan untuk mencegah terjadinya bencana,” ungkap Prof. Yusri Yusuf.
Di tengah bencana yang melanda Aceh ini, Ketua MAA juga mengimbau agar masyarakat baik sesama korban maupun yang tidak terdampak untuk saling tolong menolong, menjaga ukhuwah Islamiyah sambil mempertebal sisi kemanusiaan dan spiritual agar tetap tegar menghadapi bencana.
Baca Juga: Pimpinan MAA Berharap Pembentukan Posbankum Tidak Mereduksi Kewenangan Lembaga Adat
Selain itu kata Prof. Yusri Yusuf, rekomendasi ulama Aceh terkait keseragaman ibadah di masjid dan penguatan peran ulama perlu didukung oleh semua pihak, terutama terkait dengan praktik ibadah yang berlandaskan manhaj ahlusunnah wal jama’ah yang merujuk pada akidah Asy’ariyah dan Maturidiyah, serta fikih bermazhab Syafi’i sebagai rujukan utama mayoritas masyarakat Aceh.
Begitu juga dengan keseragaman ibadah di masjid-masjid yang harus dibangun dengan mengedepankan kearifan lokal Aceh, saling menghormati dan penuh dengan semangat persaudaraan.
Fungsi meunasah dalam kehidupan bermasyarakat juga perlu digalakkan kembali, bukan hanya sebagai tempat ibadah, tapi juga tempat bermusyawarah membahas berbagai persoalan kemasyarakatan, serta tempat mendidik genarasi muda ilmu agama.
“Masjid dan meunasah di Aceh bukan hanya tempat ibadah, tapi juga pusat dakwah, tempat pendidikan, sarana pemersatu umat, serta tempat melaksanakan berbagai aktivitas sosial. Di tengah bencana ini mari hidupkan kembali masjid dan meunasah sebagai sentra pemberdayaan dan penguatan umat,” pungkas Prof. Yusri Yusuf.[]



