BREAKING
Daerah

Wakil Ketua MAA Terima Audiensi Panitia Festival Tari Mahasiswa Nasional

Wakil Ketua II MAA Barlian AW menerima audiensi Panitia Variasi 7 dari Sanggar Seulaweut. Foto: Sofyan Yusuf.

BANDA ACEH | SAH – Wakil Ketua II Majelis Adat Aceh (MAA) Barlian AW, Kamis, 10 September 2026 menerima audiensi panitia Festival Tari Mahasiswa Nasional Variasi 7 dari Sanggar Seulawuet Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry. Banda Aceh.

Ketua Umum Sanggar Seulaweut, Bunayya Alfarisi yang didampingi Bendahara dan Sekretaris Panitia Variasi 7 Asamaul Husna dan Dini Salsabila mengharapkan dukungan dari MAA terkait even nasional yang akan dilaksanakan di Aceh tersebut.

Bunayya menjelaskan, Variasi 7 merupakan ajang kompetisi dan silaturahmi seni tari bagi unit kegiatan mahasiswa atau sanggar seni dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Event tersebut bertujuan untuk merawat dan melestarikan kekayaan tari Nusantara di kalangan generasi muda.

“Selain ajang mempererat hubungan antar pekerja seni dan komunitas tari kampus se-Indonesia. Ini juga jadi wadah bagi mahasiswa untuk menunjukkan kemampuan terbaik dalam seni tari tradisional maupun kreasi baru,” jelasnya.

Bunayya menambahkan, Variasi sudah dilakukan beberapa kali, pada tahun 2024 lalu Variasi 6 digelar di Universitas Cokroaminoto Palopo (UNCP) di Sulawesi Selatan.

“Penyelenggaraan Variasi 7 tahun 2026 dipercayakan kepada Sanggar Seni Seulawet UIN Ar-Raniry, Banda Aceh. Kami mohon dukungan MAA untuk kesuksesan acara ini,” harapnya.

Menanggapi hal itu, Wakil Ketua II MAA Barlian AW yang didampingi oleh Sekretaris Komisi Ekonomi Adat Sofyan Yusuf dan anggota bidang Pendidikan Penelitian dan Pengembangan Adat Iskandar Norman menjelaskan, MAA pada prinsipnya mendukung kegiatan tersebut sebagai bagian pembinaan generasi muda.

“Ini kegiatan postif untuk memperkenalkan Aceh kepada orang luar, baik seni tradisi, seni kontemporer dan adat istiadat Aceh. Kami bisa menyediakan narasumber untuk menjelaskan topik-topik tertentu tentang Aceh, terutama terkait adat istiadat,” jelas Barlian AW.

Meski demikian, karena Aceh merupakan daerah yang menerapkan syariat Islam, ia berharap agar pagelaran event tersebut memperhatikan norma-norman dan nilai-nilai yang berlaku di Aceh.

“Peumulia jamee memang adat geutanyoe, tapi kepada tamu juga perlu kita jelaskan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dilakukan selama di Aceh. Adat dan reusam yang berlaku di suatu daerah harus dijunjung tinggi,” imbaunya.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *